What fiction novels do to me…

Dua minggu belakangan, aku mulai membaca ulang beberapa novel yang aku punya.Kemarin, sewaktu lagi bongkar-bongkar tumpukan novel lamaku, dapat Cintapuccino-nya Icha Rahmanti. It’s been a long time since I read this novel. aku bahkan udah agak lupa ceritanya. so I decided to choose this one as my next rereading book for the day.

Ceritanya tentang seorang cewe, Ami, yang sudah punya pacar bernama Raka, akan segera dilamar, yang tiba-tiba ketemu lagi sama gebetan SMA-nya dulu, Nimo. Seingat aku, novel ini sudah difilmkan. tapi till this day, I haven’t watch the movie. hehehe. jadi mungkin udah banyak yang tahu ending-nya seperti apa. I won’t write about the whole story, but just a fragment of it.

Ada satu bagian di mana Ami secara gak sengaja ketemu lagi sama si Nimo ini. Then the next day, si Nimo menghubungi Ami, lalu mereka sempat jalan berdua. Ami felt really happy cause after years have a crush with this guy, she finally get an opportunity to have a date with him. Ami bilang, paling tidak sudah pernah jalan sama si cowo ini, jadi dia sudah lebih mantap untuk move on dan bersiap menerima pinangannya Raka. no regrets.

She is really lucky to get a date with her long-time crush while their both still single. me? my Nimo, as far as i know, already happily married and have kids. hahaha *bitter laugh, indeed* 

memang baru baca ulang separuh sih, tapi selama baca ini, aku jadi keinget juga about what i felt back then. And it bring smile to my face. I do think I was silly, so naive, and easily got anxious each time I got closer to my Nimo. Just like Ami to her Nimo. But I won’t regret what I did and I am not going to regret what happened.

Advertisements

Being Grateful

For the past few years, I taught myself to be grateful for whatever The One Up There have given me.

whether I’d been given joy or sorrow, I try to be grateful and be happy with whatever it’ll bring to my life.

Today, I felt like I need to write down the things that I am grateful for in these past weeks.

This is for you who may not be known and may not be noticed these things you had given me, these things you had made me feel, these things which sometimes made me felt both, joy and sorrow.

I want to say that I am grateful I have met you. :’)

I’m glad and am grateful that after I reach the closure of this episode of my life, I have yet another beautiful memory to reminisced.

I’m grateful that as this episode running to it’s end, as this period getting near to it’s closure, The One Up There had given me some time to spend with you. 🙂 even if it didn’t lasts long enough for me to get to know you better, but it given me the time to prepare myself, prepare my heart and value every moment I get to spend with you.

Thank you for made me feel these, just when I thought I wouldn’t have any chance of ever experience these again.

Thank you…

….and so long :’)

What is Happiness?

What is happiness?

Have a lot of money? traveling around the globe? have a great spouse/girlfriend/boyfriend?

Where can you find happiness???

when you see that there’s more than 6 digit numbers printed on your bank account?

when you look at your lover’s eyes?

when you stared at your children face while they’re sleeping?

 

For me, happiness means simplicity

You can find happiness in everything that happens around you

watching at the sun rising in the morning

hearing some birds chirping around your house

watching some people passed you by on the bus shelter

waking up in the morning with a smile on your face

take a long drive through Jakarta’s ‘fabulous’ traffic

watching at the sky above your head, and thinking : I’m happy just to be alive.

 

Find whatever things that can make you feel happy!

Happiness made you realize how precious you life is 🙂

 

Be happy, y’all~ 😉

 

Usia itu milik Tuhan

Sore ini, sewaktu aku sedang browsing timeline twitter-ku, tiba-tiba aku lihat salah satu teman menulis :

@Wilda******* : RIP @valia_rahma semoga mendapat tmp terbaik di sisiNya amin

pertama membaca, sambil berucap Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, aku berpikir mungkin teman dari si teman itu yang meninggal.

tapi entah kenapa aku merasa nama itu seperti seseorang yang pernah kukenal di masa SMA dulu.

tiba-tiba, sahabatku mengirim pesan melalui bbm , mengabarkan bahwa salah satu senior kami baru saja meninggal.

dan benar saja, nama yang disebut temanku di twitter itu ternyata adalah seniorku di sma dulu!

 

Kaget, pasti. Sedih…

Aku memang tidak pernah mengenal dekat sosok seniorku itu. Dia hanya salah satu kakak kelas yang pernah dikenalkan padaku. Namun, sikapnya yang baik dan ramah lah yang meninggalkan kesan mendalam di kenanganku tentang seniorku itu.

Tuhan…. memang usia itu hanya Engkau yang Maha Tahu. 😥

Sosok sebaik dan seramah itu, yang sebelumnya dalam kondisi sehat wal’afiat, tiba-tiba terkena musibah hingga akhirnya Kau putuskan untuk kembali ke sisiMu. 😥

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun.

Selamat jalan,Kak Valia… Keramahan dan kebaikan kakak yang mungkin bagimu adalah hal biasa, merupakan hal luar biasa yang akan selalu aku kenang :’)

Rest in Peace….

 

Buat Paspor Sendiri? Mudah kok!

Ini sebenarnya postingan lama dari blog lamaku. aku posting ulang di sini, semoga bermanfaat untuk yang baca 🙂

 

Sebenarnya, udah lama banget mau buat paspor, tapi karena belum ada kondisi ‘mendesak’ yang mengharuskan untuk punya itu paspor, jadinya ditunda-tunda terus. Apalagi dengar2 klo mau bikin paspor cepat itu biayanya mahal banget *katanya bisa sampai 700rb*, akhirnya makin malas lah buat paspor, karena toh itu belum jadi barang prioritas.

Tapi, karena ada satu dan sekian alasan lainnya, akhirnya ‘terpaksa’ juga  deh buat paspor. 😀

Dengar2 dari teman, dia buat paspor sendiri, gak mahal, tapi agak repot karena katanya harus ada surat pengantar segala dari kantor *kalo udah kerja* atau surat keterangan dari rt/rw/kelurahan. Tp berhubung sekarang belum mulai kerja *baru akan mulai kerja pertengahan september nanti* dan masih punya status mahasiswa di UNPAD  alias UNiversitas PAling Dekat rumah itu, jadilah itu surat2 tidak diperlukan! *nikmatnya mahasiswa* hihihihihi

Jadilah, bulan puasa kemarin niat buat paspor sendiri.

Pertama, cari2 info dulu di internet.

Kebetulan saya dapat link ke blog ini :

http://rollcare.wordpress.com/2011/04/10/urus-paspor-sendiri-mudah/

di blog itu, si mas-nya kasih info lengkap gimana cara untuk bikin paspor sendiri. *makasih ya,mas-e* 😀

setelah dapat infonya, dicobain deh~

  1. Daftar Online

Untuk Daftar online, bisa langsung buka http://www.imigrasi.go.id/  buka nya via Internet Explorer ya.

lalu klik ikon ‘Layanan Permohonan Paspor Online’ di sebelah kiri atas. Nah, isi deh formulirnya.

Sebelum daftar online, jangan lupa scan dulu dokumen2 yg diperlukan. Kemarin itu aku  scan KTP, akte kelahiran, ijazah, n kartu keluarga. Bagi yang udah kerja, kalo ada surat pengantar, scan aja.

Nanti di halaman untuk upload dokumen, semua dokumen tadi bisa di-upload satu-satu. Akte kelahiran/ijazah bisa pilih salah satu. Kemarin aku pilih untuk upload akte kelahiran.

Nah, nanti bisa pilih lokasi kantor imigrasi yang mau didatangi dan tanggal datang ‘main’ ke kantor imigrasinya. Karena waktu itu isinya hari sabtu, aku pilih datang hari senin, tgl 22 Agustus 2011, dan mutusin untuk ‘main’ k kantor Imigrasi kelas I khusus Jakarta Barat di Kota, sekalian pengen liat fatahilah. Hehehehe 😀

Trus, nanti diminta untuk print bukti pendaftaran via online-nya.

Berikut dokumen yang harus dibawa untuk pendaftaran di kantor imigrasi :

– KTP asli dan fotokopi. Fotokopinya minta di kertas A4, bolak-balik n jangan dipotong.

– Akte kelahiran/Ijazah, asli dan fotokopi

– Kartu Keluarga, asli dan fotokopi

– bagi yang udah kerja, surat pengantar dari kantor

– bukti print pendaftaran via online

FYI : klo udah pilih hari itu, harus datang di hari yang udah dipilih. Klo tiba2 gak bisa datang, berarti harus daftar ulang lagi.

  1. ‘Main’ ke Kantor Imigrasi

Nah, di hari yang kita pilih, datang deh ke kantor imigrasi yang dipilih~ pas datang, pertama beli map kuning *map khusus dari kantor imigrasi, jadi sayangnya gak bisa diganti dengan map kuning murah yang bisa kita beli di tempat fotokopi* dan sampul buku paspor dulu ya. Klo di kantor imigrasi jakbar itu tempatnya di deket  tempat fotokopi, masuk gerbang, lurus, di blakangnya atm. Trus ke customer service, minta formulir pendaftaran.di kantor jakbar, masuk dulu ke dalam, belok kiri. Formulirnya gratis, jadi jangan mau klo dimintain uang ya 😀 Isi formulirnya sama dengan formulir online yang sebelumnya udh kita isi.

Lalu ke bagian nomor pendaftaran. Di situ adanya di luar, *rempong benerrr~* jadi setelah isi formulir di dalam, keluar lagi, di meja dekat pintu masuk, minta no urut deh.  Si mas2nya nanti akan ngecek kelengkapan data kita. nah, fotokopi dokumen, formulir n print bukti daftar onlinenya nanti dijadiin satu di map itu. Untuk pendaftar online, dbedain no urutnya *enak yah*. Kemarin itu, aku datang jam 9 *satu jam setelah kantor buka*, di dalam antrian pendaftaran manual udah penuh, tapi aku dapat no urut 2 karena udah daftar online duluan.  Udah gitu ga pake tunggu dpanggil nomor nya, langsung aja ke loket khusus pendaftar online. 😀 di sana  posisi loketnya itu begitu masuk belok kanan. Di ruang pendaftaran adanya di loket  1 paling kiri.

Di loket 1, nyerahin dokumen2 yang udah ada di dalam map kuning, terus ada pemeriksaan dokumen aslinya. Setelah itu, kita tunggu sebentar untuk mereka cek data yang sudah kita upload via internet. Diusahakan hasil scannya jelas ya. Soalnya yg no urut 1 di depan aku kemarin stuck gara2 ada dokumen yang  hasil scan nya kurang jelas, jd terpaksa tunggu untuk scan ulang di sana.

Gak lama, nanti dipanggil, dikasih nomor urut untuk antri ke kasir *posisi dari pintu masuk, di loket paling kiri di seberang pintu masuk*.  Di kasir bayar Rp. 255.000,- sajah  hehehehe. Nanti dikasih no urut lagi. Untuk antrian nomor wawancara dan foto.

Tapi waktu itu aku foto nya gak pake antri. Langsung masuk ke ruang foto, cari yang kosong, tunjukin lembar no urut dan kwitansi pembayaran ke petugas. Nanti diminta cek nama dan tanggal lahir sudah benar apa belum, trus foto deh.  Kwitansi akan di-cap ‘SUDAH DI FOTO’, keluar, tunggu untuk wawancara.

Nah, nunggu untuk wawancaranya ini yang kudu sabar dikiiittt~ karena kita akan banyak diselak sama para calo dan para pengguna calo tersebut (-_-‘!)

Sebenarnya, di kantor imigrasi jakbar sudah ada satu layar yg menunjukkan no urut yang dipanggil untuk foto dan wawancara *kayak pemanggilan no urut di bank gitu*, tapi agak lama berubahnya.

Buktinya? Kemarin itu, untuk menunggu no berubah dari 20-an ke nomor urut 40 *aku dpt no 40* butuh waktu kira2 1 ½ jam!  Padahal yang keluar masuk di ruang wawancara pastinya sudah lebih dr 40 orang. Selama nunggu *dan berdoa supaya itu no cepet berubah sampe ke 40 sebelum jam 12, yang artinya jam istirahat*, aku jadi tau gimana membedakan orang-orang yang pake calo dan orang-orang yang tidak pake calo. Kalo ada yang namanya dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara, malu lah anda! Karena itu berarti anda menggunakan jasa calo! 😛

Setelah cukup lama nunggu *sambil terus doa supaya itu layar cepat2 nunjukin no 40*, akhirnya jam setengah 12, dpanggil juga masuk ruang wawancara. *Alhamdulillah!*

Masuk, ambil map kuning di meja yang isinya stumpuk map kuning, lalu ke meja wawancara yang kosong. Serahin map ke petugas pewawancara, lalu ditanya-tanya deh….

SiBapaknya :  Fitri Ariani?

Sayanya : Iya, pak. Saya.

SiBapaknya : coba liat dokumen aslinya.

Sayanya :* keluarin KTP, akte n KK* ini,pak.

SiBapaknya :  *cek dokumen asli* Sudah kerja?

Sayanya : Belum,pak. Masih mahasiswa.

SiBapaknya : kuliah di mana?

Sayanya : di UNPAD *UNiversitas PAling Dekat rumah*,pak

SiBapaknya : Di Jakarta?

Sayanya : Iya,pak. Di Jakarta.

SiBapaknya : sebelumnya sudah pernah buat paspor?

Sayanya : belum,pak. Ini yang pertama. *hmmm, klo dipikir jawabannya kok agak2… hihihi ;P*

SiBapaknya : bikin paspor mau kemana?

Sayanya : mau ke Hongkong,pak. *asal aja jawab*

SiBapaknya : oh, jalan2 ya.

Sayanya : iya,pak. *nyengir kuda*

SiBapaknya : *ngasih tunjuk layar pcnya* ini datanya sudah benar?

Sayanya : Iya,pak. Sudah benar.

SiBapaknya : *print data. Ambil kertas dan buku paspor* ini tanda tangan di sini *tunjuk buku*, di sini *tunjuk kertas* dan di sini *tunjuk kertas lagi*

Sayanya : oke,pak. *tanda tangan* ini *tunjuk dokumen2 asli* sudah boleh saya simpan,pak?

SiBapaknya : oh ya, boleh.

Sayanya : *simpan esmuanya*

SiBapaknya : *kasih kertas untuk ambil paspor* ini, nanti datang lg tgl 26 ya.

Sayanya : oh, sudah,pak?

SiBapaknya : iya, sudah. Nanti tgl 26 sudah bisa diambil.

Sayanya : oke. Makasih,pak. *ambil kertasnya, cabuuuutt*

  1. Balik lagi ke kantor Imigrasi

Tanggal 26 Agustus, balik lagi deh ke kantor imigrasi. Karena sampainya pas jam solat jumat, jadi nunggu kira2 45 menit sampai loket buka. Pas loket pengambilan paspor udah buka *letaknya persis di seberang pintu masuk*, langsung antri di depan loket. Begitu buka, bapak yang jaga minta bukti pengambilan paspor, terus nunggu untuk si bapaknya cari paspor yang mau diambil. Tanda tangan untuk bukti pengambilan, paspor pun sampai di tangan. 😀

Untuk pengambilan ini, bisa diwakilkan kalo2 yang pada kerja gak bisa datang.

Yah, begitulah pengalaman bikin paspor sendiri di kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat. Lumayaaannn~ total waktu yang dihabiskan cukup singkat *mengingat dulu ada yang komplain klo buat paspor sendiri itu repot dan lamaaa* 😀 lumayankan, menghemat ratusan ribu yang harus dibayar ke calo.

But the choice is yours. Kalo mau coba, silahkan~ udah baca tapi tetap mau pake calo *krn satu dan lain hal* ya silahkan aja. (^_^)